Selamat Datang di Blog teriakan angin karena tidak ada teriakan yang paling kencang kecuali teriakan angin dan selamat menikmati hidangan-hidangan yang telah disajikan.
Tampilkan postingan dengan label cuplikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuplikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

cuplikan


 Jalan Awal

Kemandegan perkembangan sastra kampus akhir-akhir ini bukanlah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa menyudutkan sebuah sistem maupun jalur akademis yang disorientasi untuk menciptakan manusia yang beradab dan berbudaya. Tutur Darmaningtyas yang senada dengan permasalahan tersebut adalah renggangnya hubungan pendidikan dengan kebudayaan pada pasca reformasi sebab kebudayaan telah teralienasi menjadi komoditas.
Sastra yang merupakan bagian dari kebudayaan, kini mulai surut perhatiannya di tingkatan kampus. Orientasi mahasiswa angkatan 2008 – 2011 khususnya di FBS UNY dalam mengenyam pendidikan di kampus sebagian lebih memberatkan pada kelulusan, nilai dan juga ijazah. Proses belajar di luar kampus, diskusi-diskusi sastra sebagai pemantik keterampilan menulis sudah tidak diindahkan lagi. Semangat belajar dan membaca mulai surut, justru bermunculan orang-orang nge-pop, hedon, dan juga individualis.
Di tambah lagi dosen sebagai tenaga pengajar dan pendidik di tingkatan kampus belum mampu membuat program-program yang bertujuan meningkatkan hubungan sosial, membaca dan belajar sastra serta kebudayaan. Berbagai seminar-seminar tentang kebudayaan pun belum mampu menyelesaikan masalah ini. Peningkatan sarana dan prasarana perkuliahan memang pesat akan tetapi tidak diimbangi dengan proses pembudayaan dan perkembangan wacana yang maju. Sehingga gedung-gedung kampus telah menjadi cangkang-cangkang tempurung yang mengurung mahasiswa layaknya “katak dalam tempurung”.
Mengamati fenomena tersebut beberapa kawan-kawan yang tergabung dalam Forum Malam Perjamuan Sastra (FMPS) mencoba untuk membangun kesadaran menulis. Hal ini dilakukan dari dalam individu  FMPS maupun dengan mengajak kawan-kawan dari luar. Adapun program yang di rasa penting untung dilakukan adalah pembuatan buku Antologi Puisi.
Buku antologi puisi ini bukanlah sebentuk rasa pamer akan tetapi sebagai ruang mengapresiasi, belajar dan diskusi karya. Harapan dari kawan-kawan dengan adanya buku antologi ini mampu memetakan kembali kawan-kawan yang masih peduli pada sastra sehingga mampu berkegiatan dan belajar secara komunal. Dan buku ini adalah titik awal kami untuk mendorong atau menciptakan passion kawan-kawan terhadap sastra.

Jumat, 17 Juni 2011

contekan tugas

Dakwah ber-nilai Ibadah

A. Latar belakang
Ilmu hadits yang itu menjadi mata pelajaran dalam KMB (Kegiatan Mengajar dan Belajar) Madrasah Diniyah Nurul Ummah yang di situ menjadi mata pelajaran pokok dan tulisan ini sebagai syarat ujian semester ganjil pada tahun ajaran ini yang diampu oleh Bapak Suparmin, yang disini penulis mendapatkan tema atau pokok acuan tentang hadits dakwah sebagai ibadah. Dari segi dakwah sendiri yang begitu jelas diterang dalam Al quran dan hadits untuk penjelasan dari dakwah sendiri adalah kewajiban dan ibadah itu bisa dilihat dari sudut pandang niat. Maka dari itu dakwah secara konsep awal adalah ibadah.
B. Pembahasan
Apakah itu dakwah ?, dari kata itulah yang menjadi gencaran-gerncaran pada musim ini yang mengaku dakwah, dari Dakwah sendiri artinya: Penyiaran, propaganda, seruan untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah juga berarti suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak manusia kejalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu agama Islam. Menurut Al-Qur’an, dakwah adalah : Menyampaikan kebenaran di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan metode

Rabu, 18 Mei 2011

cuplikan

Idealis Novel Sejarah
Menjadi seorang yang idealis, Pernyataan itu agaknya sepele, tapi sebenarnya susah di oleh siapapun. Mencita-citakan sesuatu dan bersikeras mewujudkannya ternyata tak-mudah. Seperti Sulastri dan Soedarmo dalam MANUSIA BEBAS, yang pada watu itu di Bandung pada tahun 1933-1936. pergerakan-pergerakan saat itu mencapai puncaknya.soekarno, meski baru keluar dari penjara, tak surut dengan teman-teman politiknya Karena mereka tahu, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda masih tak-kurang juga menjalankan politik penindasannya. Suasana berbau diskriminasi terserak.
Sementara itu politik kaum pribumi di ambang perpecahan antara kubu Soekarno dengan kubu Hatta-Sjahrir. Adapun pemerintah tenang saja dengan politik pembuangannya.
Suwarsih mengarang Roman-nya Buiten het Gareel , diterbitkan di Negeri Belanda, 1940, tahun 1975 disponsori Kedutaan Belanda ; ia menterjemahkan buku tersebut dalam edisi Indonesia dengan judul Manusia Bebas, Penerbit Djambatan, 1975. Suwarsih Djojopuspito dilahirkan di Cibatok, Bogor, pada tangal 20 April 1912. Buiten het Gareel ditulisnya pada tahun 1939. Roman itu dengan setting tahun 30-an. Jaman pergerakan sedang menumbuhkan semangat nasionalisme pada bibit bangsa. Memang buku ini mengisahkan sepasang suami isteri, lingkungan perguruan, dan masalah-masalah yang dihadapi kaum pendidik yang idealis. Manusia Merdeka memuat Nilai pengabdian Guru, penyebaran Nilai Nasionalisme, maka ada adegan persinggungan dengan kehidupan Bung Karno bersama Ibu Inggit Garnasih memang setting roman ini ada di Bandung, Yogyakarta, dan Bogor.
            Kisah-kisah di jaman penjajahan yang pada saa itu para kaum pergerakan Seperti Sudarmo dan kawan yang menjadi guru menjadi intaian-intaian PID dan Pemerintah Gubernemen. Jadi banyak bagian dalam buku ini yang membutuhkan keterlibatan emosi kita selain kecerdasan untuk menghayati masa lalu dengan keadaan situasional yang jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat masa kini. Soedarmo termasuk di antara para aktifis itu. Sebagaimana yang lain, ia pun memiliki cita-cita yang sama. Ia kenal dekat Soekarno (hal. 58). Karena kemampuannya, ia diserahkan tugas sebagai direktur sekolah Perguruan Kebangsaan. Sekolah ini dicap oleh pemerintah sebagai "sekolah liar". Sebab mereka mengadakan semacam tandingan bagi sekolah-sekolah pemerintah.

Rabu, 09 Maret 2011

cipta

Hari Kasih Sayang

Bulan Februari ini, kita khususnya bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (maulid Nabi) dan kemaren tanggal 3 Februari saudara-saudara kita yang beragama konghucu juga merayakan hari rayanya (imlek). sebelum maulid Nabi juga tanggal 14 seluruh dunia merayakan hari valentine yaitu hari kasih sayang yang mana kalau menurut cerita antara romeo dan Juliet dengan kisah cinta mereka yang sangat fenomenal itu. dari sinilah kita bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika tetap menjunjung asas kebersamaan yang disitu diisi oleh banyak golongan dari suku, agama, aliran dan juga parpol, harus tetap  menjaga kebersamaan, berbagi cinta, rasa peka terhadap sesama, tebar senyum sapa dan itu hampir hancur dari ulah-ulah orang yang tidak mempunyai rasa kebersamaan, rasa tanggung jawab  dan rasa kasih sayang, karena pada bulan ini juga saudara-saudara kita warga Ahmadiyah yang berada di Banten diserang oleh orang-orang yang tak mempunyai rasa kebersamaan dan rasa kasih sayang, dan juga kerusuhan tentang penistaan agama di Temanggung juga seperti itu gereja-gereja dirusak oleh massa.


Sabtu, 05 Maret 2011

Malam Perjamuan Sastra


jumat malam yang diguyur hujan bersamaan angin sepoi-sepoi tidak menghilangkan semangat teman-teman mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni untuk berapreasiasi terhadap sastra yang diberi judul "Malam Perjamuan Sastra" (MPS), sekitar pukul 19.30 wib acara dimulai dengan pembawa acara Cung-cung dan Pungkas berjalan hangat yang diisi dengan penampilan-penampilan hima seni musik, bahasa jawa dll. acara ini digelar di pendopo PKM FBS UNY yang penuh sesak temen-temen yang ingin berapresiasi terhadap sastra dan penampilan pertama diawali dari KMSI (sasmita) yang menampilkan dua buah puisi yang diiringi melodi

Minggu, 16 Januari 2011

Si Buta dari Gua Plato


Category: Books
Genre: Humaniora

Judul Buku: Si Buta Dari Gua Plato
Pengarang: Rif'an Anwar
Penerbit: Kanisius
Cetakan ke-/Tahun: Pertama/2011
Tebal: 158 halaman

Buku ini berisi anekdot-anekdot filsafat. Mulai dari kisah-kisah hidup filsuf, pemikiran-pemikirannya, dan kejadian sehari-hari yang berhubungan dengan makhluk bernama filsafat. Tapi tidak perlu cemas akan isi buku ini. Pemikiran-pemikiran filsafat yang serius dan bikin dahi berkerut tidak akan kita temui di sini.

Filsafat dalam buku ini benar-benar aneh. Pernahkah membayangkan para filsuf berkumpul dan mencari tahu siapa filsuf yang paling bijak? Dengan filsafat seperti apa Heidegger menyatakan cinta kepada Hannah Arendt? Atau bagaimana jika Karl Marx pergi ke Madura? Semua itu ada dalam Si Buta dari Gua Plato dan 99 anekdot filsafat lainnya ini.

Dengan demikian, filsafat bisa dinikmati dengan menyenangkan oleh siapa saja. Filsafat tidak harus selalu membuat orang cemberut. Filsafat juga bisa membuat kita tertawa, ternyata. Dan tertawa, barangkali, adalah memang hak segala bangsa.

Jumat, 16 Juli 2010

cuplikan



"Jangan pernah berhenti bermimpi, Anakku!"kata sang ayah kepada putranya.

"Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?"tanya seorang anak kepada ayahnya.

"Sebab dimana hatimu berada, disitulah hartamu berada, Nak."jawab sang ayah.

"Tetapi Yah, hatiku selalu gelisah. Hatiku menyimpan mimpi-mimpi, menjadi emosional, dan mendambakan seorang wanita berkerudung. Hatiku meminta banyak hal dan membuatku gelisah tak bisa tidur bermalam-malam saat aku memikirkan wanita itu!"tanya anaknya lagi.

"Kalau begitu baguslah. Berarti hatimu hidup. Jangan berhenti mendengarkan suaranya, Anakku!"jawab sang Ayah tersenyum.

Mereka terdiam sejenak. Si anak mencoba mendengarkan suara hatinya sedang si ayah menjaga senyumnya.

"Ayah, hatiku penghianat! Hatiku tak ingin aku jalan terus, Ayah!"lanjut si anak.

"Masuk akal, Nak! Wajar saja kalau hatimu takut kau kehilangan segala yang telah kau miliki dalam usaha meraih mimpimu."jawab sang Ayah.

"Kalau begitu, buat apa aku mendengarkan suara hatiku, Ayah?"tanya sang anak.

"Sebab kau takkan pernah bisa menyuruhnya diam. Kalaupun kau pura-pura menulikan kedua telingamu terhadapnya, dia akan selalu bersuara di dalam dirimu, mengulangi pikiranmu tentang kehidupan dan dunia ini, Nak!"jawab sang ayah sambil terus menerus menjaga senyumnya.

"Maksud Ayah, aku harus mendengarkan, andaipun dia berhianat?"tanyanya lagi.

"Penghianatan adalah sebuah pukulan ytak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia takkan pernah menghianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya."jawab sang Ayah.

Sang anak terdiam.

"Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tak disangka-sangka."lanjut sang ayah.

Semua terdiam. Suasana hening.

"Jangan pernah berhenti bermimpi, Anakku."kata sang ayah untuk yang terakhir kalinya.




Selasa, 01 Juni 2010

sejarah

SEJARAH SAMIN


GEGER SAMIN
Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826. Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial. Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914. Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan baberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa. Tahun 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati. Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan. Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi, demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun. Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak. Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh Dalam naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul Serat Punjer Kawitan, disebut-sebut juga kaitan Samin Surosentiko dengan Adipati Sumoroto Dari data yang ditemukan dalam Serat Punjer Kawitan dapat disimpulkan bahwa Samin Surosentiko yang waktu kecilnya bernama Raden Kohar , adalah seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar dikalangan rakyat pedesaan. Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara lain

SAMIN SUROSENTIKO DAN AJARANNYA

AJARAN KEBATINAN

Menurut warga Samin di Desa Tapelan, Samin Surosentiko dapat menulis dan membaca aksara Jawa, hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku peninggalan Samin Surosentiko yang diketemukan di Desa Tapelan dan beberapa desa samin lainnya. Khusus di Desa Tapelan buku-bukun peninggalan Samin Surosentiko disebut SERAT JAMUSKALIMOSODO, serat Jamuskalimosodo ini ada beberapa buku. Di antaranya adalah buku Serat Uri-uri Pambudi, yaitu buku tentang pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi. Ajaran kebatinan Samin surosentiko adalah perihal ? manunggaling kawulo Gusti atau sangkan paraning dumadi ?. Menurut Samin Surosentiko , perihal manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai ? rangka umanjing curiga ?( tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya ). Dalam buku Serat Uri-uri Pambudi diterangkan sebagai berikut : ?Tempat keris yang meresap masuk dalam kerisnya mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Hal ini menunjukkan pamor (pencampuran) antara mahkluk dan Khaliknya yang benar-benar sejati. Bila mahkluk musnah, yang ada hanyalah Tuhan (Khalik). Senjata tajam merupakan ibarat campuran yang menunjukkan bahwa seperti itulah yang disebut campuran mahkluk dan Khaliknya. Sebenarnya yang dinamakan hidup hanyalah terhalang oleh adanya badan atau tubuh kita sendiri yang terdiri dari darah, daging dan tulang. Hidup kita ini, yang menghidupinya adalah yang sama-sama menjadi pancer (pokok) kita. Hidup yang sejati itu adalah hidup yang menghidupi segala hal yang ada di semesta alam.? Di tempat lain Samin Surosentiko menjelaskan lagi sebagai berikut : ? Yang dinamakan sifat Wisesa (penguasa utama/luhur) yang bertindak sebagai wakil Allah, yaitu ingsun (aku, saya), yang membikin rumah besar, yang merupakan dinding (tirai) yaitu badan atau tubuh kita (yaitu yang merupakan realisasi kehadirannya ingsun). Yang bersujud adalah mahkluk, sedang yang disujudi adalah Khalik, (Allah, Tuhan). Hal ini sebenarnya hanya terdindingi oleh sifat. Maksudnya, hudip mandiri itu sebenarnya telah berkumpul menjadi satu antara mahkluk dan Khaliknya.? Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, yang bertindak mencari sandang pangan kita sehari-hari adalah ? Saderek gangsal kalima pancer? adapun jiwa kita diibaratkan oleh Samin sebagai mandor. Seorag mandor harus mengawasi kuli-kulinya. Atau lebih jelasnya dikatakan sebagai berikut: ? Gajah Seno saudara Wrekodara yang berwujud gajah. Jelasnya saudara yang berjumlah lima itu mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Hal ini perlu dicapai (yaitu tiga saudara, empat dan lima pokoknya). Adapun yang bekerja mencari sandang pangan setiap hari itu adalah saudara kita berlima itu. Adapun jiwa (sukma) kita bertindak sebagai mandor. Itulah sebabnya mandor harus berpegang teguh pada kekuasaan yang berada ditangannya untuk mengatur anak buahnya, agar semuanya selamat. Sebaliknya apabila anak buahnya tadi betindak salah dan tindakan tersebut dibiarkan saja, maka lama kelamaan mereka kian berbuat seenaknya. Hal ini akan mengakibatkan penderitaan. Pengandaian jiwa sebagai mandhor dan sedulur papat kalima pancer sebagai kuli-kuli tersebut diatas adalah sangat menarik. Kata-kata ini erat hubungannya dengan kerja paksa/kerja rodi di hutan-hutan jati di daerah Blora dan sekitarnya. Pekerja rodi terdiri dari mandor dan kuli. Mandhor berfungsi sebagai pengawas, sedangkan kuli berfungsi sebagai pekerja. Pemakaian kata yang sederhana tersebut oleh Samin Surosentiko dikandung maksud agar ajarannya dapat dimengerti oleh murid-muridnya yang umumnya adalah orang desa yang terkena kerja paksa. Menurut Samin Surosentiko, tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan. Jadi apa yang dialami oleh manusia di dunia adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu sedih dan gembira, sehat dan sakit, bahagia dan sedih, harus diterima sebagai hal yang wajar. Hal tersebut bisa dilihat pada ajarannya yang berbunyi : ? ..Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan di dunia untuk menambah kendahan jagad raya. Dalam hubungan ini masyarakat harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah. Oleh karena itu apabila manusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih dan gembira, sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan, sebab manusia terikat dengan perjanjiannya. Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan, yaitu memahami pada asal-usulnya masing-masing?.? Samin Surosentiko juga mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebajikan, kejujuran dan kesabaran. Murid-muridnya dilarang mempunyai rasa dendam. Adapun ajaran selengkapnya sebagai berikut: ? ?Arah tujuannya agar dapat berbuat baik dengan niat yang sungguh-sungguh, sehingga tidak ragu-ragu lagi. Tekad jangan sampai goyah oleh sembarang godaan, serta harus menjalankan kesabaran lahir dan batin, sehingga bagaikan mati dalam hidup. Segala tindak-tanduk yang terlahir haruslah dapat menerima segala cobaan yang datang padanya, walaupun terserang sakit, hidupnya mengalami kesulitan, tidak disenangi orang, dijelek-jelekkan orang, semuanya harus diterima tanpa gerutuan, apalagi sampai membalas berbuat jahat, melainkan orang harus selalu ingat pada Tuhan?,? Ajaran di atas dalam tradisi lisan di desa Tapelan dikenal sebagai ? angger-angger pratikel? (hukum tindak tanduk), ? angger-angger pengucap ? (hukum berbicara), serta ? angger-angger lakonana? (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Hukum yang pertama berbunyi ?Aja dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput, mbedog colong.? Maksudnya, warga samin dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil milik orang. Hukum ke dua berbunyi ? Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pengucap saka sanga budhelane ana pitu.? Maksud hukum ini , orang berbicara harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain. Kata-kata yang tidak senonoh dan dapat menyakitkan orang lain dapat mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Adapun hukum yang ke tiga berbunyi ? Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokale dilakoni.? Maksudnya, warga Samin senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat ? bagaikan orang mati dalam hidup ? Menurut Samin Surosentiko, semua ajaran diatas dapat berjalan denganbaik asalkan orang yang menerima mau melatih diri dalam hal samadi. Ajaran ini tertuang dalam Serat Uri-uri Pambudi yang berbunyi sebagai berikut : ??Adapun batinnya agar dapat mengetahui benar-benar akan perihal peristiwa kematiannya, yaitu dengan cara samadi, berlatih ?mati? senyampang masih hidup (mencicipi mati) sehingga dapat menanggulangi segala godaan yang menghalang-halangi perjalanannya bersatu dengan Tuhan, agar upaya kukuh, dapat terwujud, dan terhindar dari bencana.?Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, setelah manusia meninggal diharapkan roh manusia yang meninggal tadi tidak menitis ke dunia, baik sebagai binatang( bagi manusia yang banyak dosa) atau sebagai manusia (bagi manusia yang tidak banyak dosa), tapi bersatu kembali dengan Tuhannya. Hal ini diterangkan Samin Surosentiko dengan contoh-contoh yang sulit dimengerti orang apabila yang bersangkutan tak banyak membaca buku-buku kebatinan. Demikian kata Samin Surosentiko : ? ?Teka-teki ini menunjukkan bahwa jarak dari betal makmur ke betal mukaram sejengkal, dan dari betal mukaram ke betal mukadas juga sejengkal. Jadi triloka itu jaraknya berjumlah tiga jengkal. Kelak apabila manusia meninggal dunia supaya diusahakan tidak terkuasai oleh triloka. Hal ini seperti ajaran Pendeta Jamadagni. Tekad pendeta Jamadagni yang ingin meninggalkan dunia tanpa terikat oleh triloka itu diceritakan oleh Serat Rama. Pada awalnya ingin menitis pada bayi yang lahir (lahir kembali kedunia). Oleh karena itulah pada waktu meninggal dunia dia berusaha tidak salah jalan, yaitu kembali ke rahim wanita lagi. (jangan sampai menitis kembali pada bayi, lahir kembali ke dunia).? Dari keterangan diatas dapatlah diketahiu bahwa Samin Surosentiko tidak menganut faham ?Penitisan? tapi menganut faham ? manunggaling kawulo Gusti? atau ?sangkan paraning dumadi?. Dari ajaran-ajaran tertulis di atas jelas kiranya bahwa Samin Surosentiko adalah seorang ?theis?. Keparcayaan pada Tuhan, yang disebutnya dengan istilah-istilah Gusti, Pangeran, Allah, Gusti Allah, sangatlah kuat, hal ini bisa dilihat pada ajarannya : ? Adapun Tuhan itu ada, jelasnya ada empat. Batas dunia disebelah utara, selatan, timur, dan barat. Keempatnya menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada (adanya semesta alam dan isinya itu juga merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada?.? Demikianlah cuplikan ajaran Samin Surosentiko yang berasal dari Serat Uri-uri Pambudi. Selanjutnya akan dijelaskan ajaran Samin Surosentiko yang terdapat dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten. Buku ini maknanya pengukuhan kehidupan yang sejati. Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa. Disini yang akan dikutip adalah sebuah tembang Pangkur yang mengandung ajaran perihal Perkawainan. Adapun tembang Pangkur yang dimaksud seperti dibawah ini : ? Saha malih dadya garan, anggegulang gelunganing pembudi, palakrama nguwoh mangun, memangun traping widya, kasampar kasandhung dugi prayogantuk, ambudya atmaja tama, mugi-mugu dadi kanthi.? Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan ?Atmaja Tama? (anak yang mulia). Dalam ajaran Samin , dalam perkawinan seorang temanten laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian : ? Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama?? Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.? Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga samin.
AJARAN POLITIK

Dalam ajaran politiknya Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintahan Koloniak Belanda. Hal ini terwujud dalam sikap :
1. Penolakan membayar pajak
2. penolakan memperbaiki jalan
3. penolakan jaga malam (ronda)
4. penolakan kerja paksa/rodi
Samin Surosentiko juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Serat Pikukuh Kasajaten, yaitu sebuah Negara akan terkenal dan disegani orang serta dapat digunakan sebagai tempat berlindung rakyatnya apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup dalam perdamaian. Dalam salah satu ceramahnya yang dilakukan tanah lapang Desa Bapangan Blora, pada malam Kamis legi, 7 Pebruari 1889 yang menyatakan bahwa tanah Jawa adalah milik keturunan Pandawa. Keturunan Pandawa adalah keluarga Majapahit. Sejarah ini termuat dalam Serat Punjer Kawitan. Atas dasar Serat Punjer Kawitan itulah, Samin Surosentiko mengajak pengikut-pengikutnya untuk melawan Pemerintah Belanda. Tanah Jawa bukan milik Belanda. Tanah Jawa adalah tanah milik ? wong Jawa ?. Oleh karena itulah maka tarikan pajak tidak dibayarkan. Pohon-pohon jati di hutan ditebangi, sebab pohon jati dianggap warisan dari leluhur Pandawa. Tentu saja ajaran itu menggegerkan Pemerintahan Belanda, sehingga Pemerintah Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin ajaran Samin. Geger Samin atau Pergerakan Samin yang dipimpin oleh Samin Surosentiko sebenarnya bukan saja desebabkanoleh faktor ekonomis saja, akantetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor lain. Yang jelas pemberontakan melawan Pemerintahan Kolonial Belanda didasarkan pada kebudayaan Jawa yang religius.. Dengan demikian ajaran Samin surosentiko bukanlah ajaran yang pesimitis, melainkan ajaran yang penuh kreatifitas dan keberanian. Samin Surosentiko yang hidup dari tahun 1859 sampai tahun 1914 ternyata telah memberi warna sejarah perjuangan bangsa, walaupun orang-orang di daerahnya, Blora yang bukan warga Samin mencemoohkannya, tapi sejarah telah mencatatnya, dia telah mampu menghimpun kekuatan yang luar biasa besarnya. Ajaran-ajarannya tidak hanya tersebar didaerah Blora saja, tetapi tersebar di beberapa daerah lainnya, seperti : Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Madiun, Jember, Banyuwangi, Purwodadi, Pati, Rembang, Kudus, Brebes, dan lain-lain.

DENGAN DEMIKIAN SAMIN SUROSENTIKO ADALAH PAHLAWAN LOKAL YANG PERLU DIPERHATIKAN JASA-JASANYA.

diambil dari situs pemkab kabupaten blora jawa tengah.

Minggu, 23 Mei 2010

sinopsis film terbaik 3 idiots

Farhan Qureshi (R. Madhavan), Raju Rastogi (Sharman Joshi), and Rancchoddas "Rancho" Shyamaldas Chanchad (Aamir Khan) are three engineering students who share a room in a hostel at the Imperial College of Engineering, one of the best colleges in India. While Farhan and Raju are average students from modest backgrounds, Rancho is from a rich family. Farhan wants to become a wildlife photographer, but has joined engineering college to fulfil his father's wish. Raju on the other hand wants to uplift his family fortunes. Rancho is a wealthy genius who studies for the sheer joy of it. However, Rancho's passion is for knowledge and taking apart and building machines rather than the conventional obsession of the other students with exam ranks. With his different approach Rancho incurs the wrath of dean of college, Professor Viru Sahastrabudhhe (ViruS) (Boman Irani). Rancho irritates his lecturers by giving creative and unorthodox answers, and confronts ViruS after fellow student Joy Lobo hangs himself in his dormitory room. Joy had requested an extension on his major project on compassionate groundshis father had suffered a strokebut ViruS refused, saying that he himself was completely unmoved by his own son's accidental death after being hit by a train. Rancho denounces the rat race, dog-eat-dog, mindless rote learning mentality of the institution, blaming it for Lobo's death.

Threatened by Rancho's talent and free spirit, ViruS labels him an "idiot" and attempts on a number of occasions to destroy his friendship with Farhan and Raju, warning them and their parents to steer clear of Rancho. In contrast, ViruS model student is Chatur Ramalingam or "Silencer", (Omi Vaidya) who sees a high rank at the prestigious college as his ticket to higher social status, corporate power, and therefore wealth. Chatur conforms to the expectations of the system. Rancho humiliates Chatur, who is awarded the honour of making a speech at an award ceremony, by substituting obscenities into the text, which has been written by the librarian. As expected, Chatur mindlessly memorises the speech, without noticing that anything is amiss, partly aided by his lack of knowledge on Hindi. His speech becomes the laughing stock of the audience, infuriating the authorities in the process.

Meanwhile, Rancho also falls in love with ViruS' medical student daughter Pia (Kareena Kapoor) when he, Raju and Farhan crash her sister's wedding banquet in order to get a free meal, in the process further infuriating ViruS.

Meanwhile, the three students continue to anger ViruS, although Rancho continues to come first in every exam, while Chatur is always second, and Farhan and Raju are inevitably in the last two positions. The tensions come to a head when the three friends, who are already drunk, break into ViruS's house at night to allow Rancho to propose to Pia, and then urinate on a door inside the compound before running away when ViruS senses intruders. The next day, ViruS threatens to expel Raju lest he talks on the other two. Unable to choose between betraying his friend or letting down his family, Raju jumps out of the 3rd floor window and lands on a courtyard, but after extensive care from Pia and his roommates, awakes from a coma.

The experience has changed Farhan and Raju, and they adopt Rancho's outlook. Farhan decides to pursue his love of photography, while Raju takes an unexpected approach for an interview for a corporate job. He attends in plaster and a wheelchair and gives a series of non-conformal and frank answers. However, ViruS is unsympathetic and vows to make the final exam as hard as possible so that Raju is unable to graduate. Pia hears him and angrily confronts him, and when ViruS gives the same ruthless reply he gives to his students, she denounces him in the same way that Rancho did over the suicide of Lobo. Pia reveals that Viru's son and her brother was not killed in an accident but committed suicide in front of a train and left a letter because ViruS had forced him to pursue a career in engineering over his love for literature; ViruS always mentioned that he unsympathetically failed his son on the ICE entrance exams over and over to every new intake of ICE students. After this, Pia walks out on the family home, and takes ViruS's spare keys with her. She tells Rancho of the exam, and he and Farhan break into ViruS's office and steals the exam and give it to Raju, who with his new-found attitude, is unconcerned with the prospect of failing, and refuses to cheat and throws the paper away. However, ViruS catches the trio and expels them on the spot. However, they earn a reprieve when Viru's pregnant elder daughter Mona (Mona Singh) goes into labour at the same time. A heavy storm cuts all power and traffic, and Pia is still in self-imposed exile, so she instructs Rancho to deliver the baby in the college common room via VOIP, after Rancho restores power using car batteries and a power inverter that Rancho had dreamed up and ViruS had mocked. Rancho then delivers the baby with the help of a cobbled-together Vacuum extractor.

After the baby is apparently stillborn, Rancho resuscitates it. ViruS reconciles with Rancho and his friends and allows them to take their final exams and they graduate. Rancho comes first and is awarded ViruS's pen, which the professor had been keeping for decades before finding a brilliant enough student to gift it to.

Their story is framed as intermittent flashbacks from the present day, ten years after Chatur vowed revenge on Rancho for embarrassing him at the speech night and promised to become more successful than Rancho a decade later. Having lost contact with Rancho, who disappeared during the graduation party and went into seclusion, Raju and Farhan begin a journey to find him. They are joined by Chatur, now a wealthy and successful businessman, who joins them, brazenly confident that he has surpassed Rancho. Chatur is also looking to seal a deal with a famous scientist and prospective business associate named Phunsukh Wangdu. Chatur sees Wangdu, who has hundreds of patents, as his ticket to further social prestige. When they find Rancho's house, they walk into his father's funeral, and find a completely different Rancho Jaaved Jaffrey. After accusing the new man of stealing their friend's identity and profiting from his intellect, the host pulls a gun on them, but Farhan and Raju turn the tables by seizing the father's ashes and threatening to flush them down the toilet. The householder capitulates and says that their friend was a destitute servant boy who loved learning, while he, the real Rancho, was a lazy wealthy child who disliked study, so the family agreed to let the servant boy study in Rancho's place instead of labouring. In return, the real Rancho would pocket the qualifications and the benefits thereof, while the impersonator would sever all contact with the world and start a new life. The real Rancho reveals that his impersonator is now a schoolteacher in Ladakh.

Raju and Farhan then find Pia, and take her from her wedding day to Suhas by performing the same tricks with his material possessions, and having Raju turn up to the ceremony disguised as the groom and eloping with Pia in public. When they arrive in Ladakh, they see a group of enthusiastic Ladakhi children who are motivated by love of knowledge. Pia and the fake Rancho rekindle their love, while Chatur mocks and abuses Rancho the schoolteacher before walking away. When his friends ask what his real name is, he reveals that it Phunsukh Wangdu and phones Chatur, who has turned his back, to turn around and meet his prospective business partner. Chatur is horrified and falls to his knees, accepts his defeat and continues to plead his case with Phunsukh to establish the business relationship he was after.


(di ambil dari webnya 3 idiots)