Selamat Datang di Blog teriakan angin karena tidak ada teriakan yang paling kencang kecuali teriakan angin dan selamat menikmati hidangan-hidangan yang telah disajikan.

Sabtu, 17 September 2011

mount Merbabu








Sabtu, 13 Agustus 2011

Oase


Demi Hati




Sepoi malam mengguyurku basah
Rindu tiba berbungah merah
Berlutut tanpa nada dilengan atas
Menjadikan diri runtuh melesat
Demi malam yang mengkoyakkoyak diri ini
Demi hati yang selalu sepi
Tegukku dalam ingatan yang menyakitkan
Dari badai diatas ubunubun malam berlintas
Disini aku mulai berjalan menuju sorot keabadian
Untuk kemenagan didepan Tuhan

Minggu, 10 Juli 2011

Info Lomba



  • LOMBA PENULISAN ESAI DAN CERPEN BAGI REMAJA DIY TAHUN 2011

    1. Latar belakang
    Menulis merupakan salah satu kompetensi dasar dalam pembelajaran ilmiah yang berada pada tingkatan paling tinggi setelah mendengar, berbicara, dan membaca. Di dalam aktivitas menulis seseorang berusaha menata gagasan sesuai dengan topik tertentu melalui berbagai lambang kebahasaan, termasuk kaidah yang harus digunakan.
    Untuk itu, Balai Bahasa Yogyakarta memberi kesempatan kepada para remaja DIY untuk menunjukkan bakat dan talenta menulis esai dan cerita pendek (cerpen). Aktivitas ini menjadi bagian dari apresiasi, rasa cinta, dan bangga kepada negeri ini. Karya tulis kebahasaan dan kesastraan merupakan aktualisasi nilai yang mampu menjadi salah satu jati diri. Perlulah kiranya digali dan dikembangkan oleh para generasi muda.

    2. Tujuan
    Lomba penulisan cerpen dan esai bertujuan (1) membangkitkan minat remaja terhadap kegiatan berbahasa dan bersastra, khususnya menulis esai dan cerpen; 2) meningkatkan daya cipta dan kreativitas para remaja dalam penulisan esai dan cerpen; (3) menumbuhkan sikap positif dan rasa cinta terhadap hasil karya kebahasaan dan kesastraan; dan (4) mengembangkan aktivitas menulis kreatif di kalangan remaja.

    3. Peserta
    Peserta lomba adalah para remaja di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berusia 13-19 tahun.

Sabtu, 25 Juni 2011

Puisi

Gila

kegilaan apa yang terus berputar
kekaguman apa yang terus tersebar
entah kenapa sistem otak ini
karena apa diri ini menjadi api

berjalan tanpa nadi
berfikir tanpa jejak pasti
berliku-liku jalanan berduri
jejak suci membuka mata kaki
di hati hanya lintasan suri

mati...
mati...
apakah jalan yang pasti???
menjadi gila kursi
menjadi lupa akan bumi
menjadi kepala tanpa gigi

lenyaplah dalam malam nanti...

Jumat, 17 Juni 2011

contekan tugas

Dakwah ber-nilai Ibadah

A. Latar belakang
Ilmu hadits yang itu menjadi mata pelajaran dalam KMB (Kegiatan Mengajar dan Belajar) Madrasah Diniyah Nurul Ummah yang di situ menjadi mata pelajaran pokok dan tulisan ini sebagai syarat ujian semester ganjil pada tahun ajaran ini yang diampu oleh Bapak Suparmin, yang disini penulis mendapatkan tema atau pokok acuan tentang hadits dakwah sebagai ibadah. Dari segi dakwah sendiri yang begitu jelas diterang dalam Al quran dan hadits untuk penjelasan dari dakwah sendiri adalah kewajiban dan ibadah itu bisa dilihat dari sudut pandang niat. Maka dari itu dakwah secara konsep awal adalah ibadah.
B. Pembahasan
Apakah itu dakwah ?, dari kata itulah yang menjadi gencaran-gerncaran pada musim ini yang mengaku dakwah, dari Dakwah sendiri artinya: Penyiaran, propaganda, seruan untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah juga berarti suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak manusia kejalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu agama Islam. Menurut Al-Qur’an, dakwah adalah : Menyampaikan kebenaran di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan metode

Rabu, 18 Mei 2011

cuplikan

Idealis Novel Sejarah
Menjadi seorang yang idealis, Pernyataan itu agaknya sepele, tapi sebenarnya susah di oleh siapapun. Mencita-citakan sesuatu dan bersikeras mewujudkannya ternyata tak-mudah. Seperti Sulastri dan Soedarmo dalam MANUSIA BEBAS, yang pada watu itu di Bandung pada tahun 1933-1936. pergerakan-pergerakan saat itu mencapai puncaknya.soekarno, meski baru keluar dari penjara, tak surut dengan teman-teman politiknya Karena mereka tahu, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda masih tak-kurang juga menjalankan politik penindasannya. Suasana berbau diskriminasi terserak.
Sementara itu politik kaum pribumi di ambang perpecahan antara kubu Soekarno dengan kubu Hatta-Sjahrir. Adapun pemerintah tenang saja dengan politik pembuangannya.
Suwarsih mengarang Roman-nya Buiten het Gareel , diterbitkan di Negeri Belanda, 1940, tahun 1975 disponsori Kedutaan Belanda ; ia menterjemahkan buku tersebut dalam edisi Indonesia dengan judul Manusia Bebas, Penerbit Djambatan, 1975. Suwarsih Djojopuspito dilahirkan di Cibatok, Bogor, pada tangal 20 April 1912. Buiten het Gareel ditulisnya pada tahun 1939. Roman itu dengan setting tahun 30-an. Jaman pergerakan sedang menumbuhkan semangat nasionalisme pada bibit bangsa. Memang buku ini mengisahkan sepasang suami isteri, lingkungan perguruan, dan masalah-masalah yang dihadapi kaum pendidik yang idealis. Manusia Merdeka memuat Nilai pengabdian Guru, penyebaran Nilai Nasionalisme, maka ada adegan persinggungan dengan kehidupan Bung Karno bersama Ibu Inggit Garnasih memang setting roman ini ada di Bandung, Yogyakarta, dan Bogor.
            Kisah-kisah di jaman penjajahan yang pada saa itu para kaum pergerakan Seperti Sudarmo dan kawan yang menjadi guru menjadi intaian-intaian PID dan Pemerintah Gubernemen. Jadi banyak bagian dalam buku ini yang membutuhkan keterlibatan emosi kita selain kecerdasan untuk menghayati masa lalu dengan keadaan situasional yang jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat masa kini. Soedarmo termasuk di antara para aktifis itu. Sebagaimana yang lain, ia pun memiliki cita-cita yang sama. Ia kenal dekat Soekarno (hal. 58). Karena kemampuannya, ia diserahkan tugas sebagai direktur sekolah Perguruan Kebangsaan. Sekolah ini dicap oleh pemerintah sebagai "sekolah liar". Sebab mereka mengadakan semacam tandingan bagi sekolah-sekolah pemerintah.

Selasa, 17 Mei 2011

Oase


Pinggiran
Aku bagaikan hantu dipinggir jalan
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Hanya meminta pada penghuni  jalan
Kadangkala disayat orang
Kadangkala pula diberi  irisan hati

Waktu kuteguk bunyian dalam remang jalan
Tanpa bibir dalam menyiram ruang
Penuh hati menyelam sayang
Untuk penghuni penyayang bedecak asam
Pada hati runyam dalam sejahtera terakhir kalinya

Dari seberang
Cahaya benderang mulai padam menyelam
Tak kusangka itu akan hilang
Hari demi hari terus berganti dalam hariku
Entah apa tanpa cahaya kehidupan
Dan itulahkehidupan lanjutan
Yang gelap dalam buaian malam
Oh…..sayang…
Engkau telah mengirim salam dalam
Untuk kesombongan cahaya alam